MEREKA YANG DITOLAK MENCERAIKAN

19 03 2011

Salah satu syarat cerai (talak) adalah jatuhnya talak dari pihak laki-laki (muthalliq). Namun, ada beberapa laki-laki yang dianggap tidak sah menceraikan istrinya.

Pertama, perceraian yang dijatuhkan oleh anak-anak, orang gila atau orang linglug karena depresi (mad-husy). Termasuk dalam kaitan ini adalah orang yang tidak sadarkan diri. Abu Daud dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits dari Sayyidatina Aisyah RA yang menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Tak ada cerai bagi yang tertutup (ighlaq)”. Ighlaq ini menurut Syaikh Wahbah Zuhaili adalah hal yang menutupi kewarasan baik karena gila, marah yang sangat memuncak atau ketakutan yang kuat.

Rasulullah juga bersabda: “Setiap perceraian itu boleh kecuali perceraian yang dilakukan anak-anak dan orang gila”. Dalam hadits Turmudzi dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Setiap perceraian itu boleh selain cerai yang dilakukan oleh idiot (ma’tuh)”.

Perceraian tak bisa dilakukan anak-anak karena perceraian dianggap sebagai keputusan besar dalam biduk keluarga sehingga harus diputuskan melalui proses pemikiran yang panjang. Anak-anak belum tahu mudharat perceraian.

Namun, dalam pandangan Imam Hanbali, jika anak sudah mumayyiz (nalar dan berpikir) meski berusia dibawah 10 tahun dianggap bisa diterima cerainya. Namun, pendapat yang kuat tidak bisa menerima, meski dia telah mumayyiz bahkan telah diizinkan wali sekalipun.

Dalam hokum Mesir dan Suriah yang menjadi cikal bakal hukum keluarga muslim modern, anak-anak dibatasi boleh menikah pada usia 21 tahun (Mesir) dan 18 tahun (Suriah). Indonesia mengambil acuan Mesir, laki-laki harus berusia 21 tahun dan wanita 18 tahun. Usia di bawah itu harus seizing pengadilan. Mereka yang dalam usia menikah itulah yang boleh menceraikan istrinya.

Kedua, Perceraian yang dilakukan laki-laki yang marah. Pengertian marah ini, menurut Syaikh Wahbah Zuhaili adalah amarah yang tidak lagi bisa disadari apa yang dikatakan, diperbuah dan dikehendaki. Hal ini, menurut Wahbah, amarah seperti ini jarang terjadi. Jika ia masih menyadari apa yang dikatakannya, maka jatuhlah talak itu. Sebab, sebagian besar perceraian muncul karena amarah akibat persoalan yang melibatkan dua pasangan.

Ketiga, cerai yang dilakukan bukan suaminya. Hal ini jelas karena ada sabda Rasulullah dalam riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah, “Tiada cerai sebelum nikah. Dan tidak ada kemerdekaan sebelum perbudakan”. Pernikahan terkait kepemilikan, sementara perceraian adalah melepas ikatan perkawinan. Bagaimana mungkin melepas perkawinan jika ia belum terikat perkawainan?.

Keempat, perceraian yang dilakukan pemabuk berat yang sampai pada derajat meracau yang ia tidak sada apa yang ia perbuat kala mabuk. Menurut para Imam Fiqih, tidak terjadi perceraian jika dilakukan laki-laki yang mabuk bukan karena sesuatu yang haram. Misalnya, minum minuman yang memabukkan karean darurat. Tapi, kata Wahbah, hal ini sangat langka.

Namun jika ia mabuk karena keterbiasaan mabuk dengan minuman yang memabukkan yang dia ketahui keharamannya, maka cerai itu jatuh. Kecuali mengikuti pendapat Imam Hanbali. Hal ini sebagai sanksi atas perbuatannya. Menurut pandangan Imam Hanbali, yang juga didukung Imam Thahawi, Al-Kukhi (pengikut madzhab Hanafi), Imam Muzani (madzhab Syafi’i) dan khalifah Umar bin Abdul Aziz, pemabuk yang haram sekalipun tidak bisa diterima cerainya. Sayyidina Usman berkata, “Bagi orang idiot dan pemabuk tidak ada cerai”. Ibnu Abbas berkata, “Cerai yang dilakukan pemabuk dan orang yang dipaksa tidak sah”.

Undang-undang hukum keluarga modern no 25 tahun 1929 di Mesir menyatakan cerai yang dilakukan pemabuk tidak dianggap sah. Hal serupa diadopsi UU Perkawinan Suriah.

Kelima, perceraian yang dilakukan karena dipaksa juga tidak bisa diterima, karena dianggap tidak bermaksud menceraikan. Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi, ”Sesungguhnya Allah memaafkan untuk ku dan ummatku karena kesalahan, lupa dan karena sesuatu yang dipaksakan”. Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan Abu Daud, ”Tiada cerai dalam paksaan”.

Berbeda dengan pandangan Imam Hanafi, cerai yang dilakukan secara paksa jatuh karena ia secara lahiriah telah melakukan perceraian meski ia dalam posisi tidak suka melaksanakan. Hal ini disamakan dengan cerai dalam bercanda yang menurut Imam Hanafi juga jatuh. Sebab, dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad ada tiga hal yang tidak boleh dijadikan mainan atau candaan, nikah, cerai dan rujuk.

Hal-hal terkait perceraian dalam hukum indonesia tergantung sepenuhnya kepada keputusan hakim. Sebab, dalam Kompilasi Hukum Islam tahun 1991, bab 16 pasal 115; perceraian hanya dapat dilakukan di depan Pengadilan Agama. Pengadilan nanti yang akan memeriksa sejau mana perceraian yang dilakukan laki-laki ini sah. Tentu dengan mengacu beberapa pertimbangan, termasuk upaya perdamaian. Hakim memiliki wewenang untuk memutuskan perkara berdasarkan ijtihadnya. (Musthafa Helmy)

(Bahan-bahan: Bidayatul Mujtahid, al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Himpunan Peraturan Perundang Undangan Perkawinan Departemen Agama RI 1997/1998)


Actions

Information

2 responses

21 08 2011
bahar mujaz

asslkm,,,,,, maaf mau tanya bngaimana hukumnya tlak sseorang yang ilang ingatan,,,,,,,trus krena istri d tolak llu dia kwin sma lki2 lain dan bagaimankah hukum perkawinan itu

7 11 2011
baju wanita

bagus tulisannnya…makasih yaa…salam persahabatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: