15 Cara Pekerjaan Kantor Merusak Tubuh Anda

15 07 2014

Punya pekerjaan nyaman di kantor mungkin sering diminati anda kaskuser, pekerjaan dalam ruangan yang dilengkapi dengan fasilitas teknologi. Tapi apakah anda tau, banyak benda-benda dan juga cara kerja dikantor yang bisa berdampak buruk buat tubuh anda dalam jangka pendek atau jangka panjang?
Peralatan teknologi di kantor seperti printer, komputer, laptop, keyboard, dan lainnya ternyata bisa berefek buruk buat kesehatan fisik anda. Beberapa cara kerja dikantor merusak tubuh berikut pernah dan bahkan sedang Anda jalani.

  1. Duduk di kursi sepanjang hari

Duduk dalam waktu lama memiliki dampak sangat mengerikan bagi tubuh. Sakit dan nyeri merupakan masalah yang umum — hal itu juga dapat menyebabkan kematian dini. anda berisiko lebih tinggi mengalami gangguan otot tulang, obesitas, diabetes, kanker, penyakit jantung dan banyak lagi, meski jika anda berolahraga secara teratur.
Solusi : berdiri setiap satu jamingatlah untuk berdiri setiap satu jam, Ciptakan aktivitas yang memaksa Anda bergerak dari kursi Anda.

 

  1. Membungkuk bahkan lebih buruk

Jika pekerjaan mengharuskan anda untuk duduk sepanjang hari, lebih baik anda menggunakan perangkat duduk yang memungkinkan anda untuk meluruskan postur tubuh. Jika tidak, anda berpotensi terkena penyakit kronis jangka panjang termasuk radang sendi.
Solusi : Lakukan peregangan tiap 30 menitJika sering duduk dalam jangka waktu sangat lama, lakukan peregangan tiap 30-60 menit untuk mengurangi risiko sakit punggung. Gerakan peregangan bisa meniru gerakan-gerakan senam, atau jika malu cukup berdiri lalu berjalan-jalan keliling kantor maka otot punggung sudah sedikit meregang.

  Read the rest of this entry »





10 Manfaat & Dampak Ilmiah Puasa Pada Kesehatan Tubuh

7 07 2014

10 Manfaat & Dampak Puasa Pada Tubuh Secara Ilmiah – Bulan ramadhan sebentar lagi tiba, artinya kesempatan umat muslim untuk menjalankan kewajiban berpuasa dan mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya juga terbuka. Dengan niat yang kuat dan ikhlas, ibadah puasa dapat kita jalani dengan maksimal sekaligus memberikan manfaat yang maksimal pula bagi diri kita. Selain menjadi ladang pahala bagi umat muslim, berpuasa juga memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan tubuh manusia itu sendiri.

Karena itu, agar makin termotivasi dalam menjalani puasa Ramadhan, kita juga perlu tahu apa saja manfaat berpuasa dari segi ilmiah. Manfaat berpuasa ini telah banyak dibahas diberbagai artikel, maka kami menghimpunnya dan memilah yang terbaik dan mudah dipahami. Read the rest of this entry »





Tentukan Pilihanmu!

7 07 2014


Sebagaimana kita ketahui, Bangsa Pilpres PahleviIndonesia akan mengadakan pemilihan umum untuk menentukan Presiden di Negeri

ini. Tanggal 9 Juli 2014, merupakan tanggal penentuan dan hari penentuan. Sudah banyak slogan dan kampanye yang dil
akukan dari kedua kubu, baik itu kubu Prabowo – Hatta ataupun Kubu Joko Widodo – Kalla, dari kampanye yang santun sampai kampanye yang menjelek-jelekkan (kampanye hitam).

Sebagai warga negara yang baik, merupakan hak kita untuk memilih siapa yang baik menuruk kita. tanpa harus dipengaruhi oleh isu-isu yang sungguh tidak etis untuk dikampanyekan. Sebagai manusia biasa, kedua kandidat pastilah memiliki kekurangan dimana-mana, karena tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Maka dari itu, semua kembali kepada kita, bagaimana kita menyikapi dan menilai kekurangan dan kelebihan masing-masing kandidat. Tapi, walaupun begitu tidak salah kalau kita bertanya dan mengetahui visi dan misi kedua kandidat. Ini bisa kita lihat dari debat capres yang telah diadakan oleh KPU, kita dapat melihat dan menilai kredebilitas masing-masing pasangan. Bagaimana mereka mengemukakan visi mereka dan lain sebagainya.

Singkat cerita, tentukanlah pilihanmu untuk membangun Indonesia yang lebih bermartabat dan berwibawa.





Hukum Menjatuhkan Talak dalam Keadaan Marah

19 08 2013

Tanya :

Ustadz, bagaimana hukumnya suami menjatuhkan talak dalam keadaan marah? Apakah jatuh talaknya?

Jawab :

 

Menurut Wahbah Zuhaili marah (ghadhab) ada dua. Pertama, marah biasa yang tak sampai menghilangkan kesadaran atau akal, sehingga orang masih menyadari ucapan atau tindakannya. Kedua, marah yang sangat yang menghilangkan kesadaran atau akal, sehingga seseorang tak menyadari lagi ucapan atau tindakannya, atau marah sedemikian rupa sehingga orang mengalami kekacauan dalam ucapan dan tindakannya. (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 9/343).

Para fuqaha sepakat jika suami menjatuhkan talak dalam keadaan marah yang sangat (kategori kedua), talaknya tidak jatuh. Sebab ia dianggap bukan mukallaf karena hilang akalnya (za`il al-aql), seperti orang tidur atau gila yang ucapannya tak bernilai hukum. Dalilnya sabda Nabi SAW,“Diangkat pena (taklif) dari umatku tiga golongan : anak kecil hingga baligh, orang tidur hingga bangun, dan orang gila hingga waras.” (HR Abu Dawud no 4398). (Ibnul Qayyim, Zadul Ma’ad, 5/215; Sayyid Al-Bakri, I’anah al-Thalibin, 4/5; Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 9/343; Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 29/9).

Namun fuqaha berbeda pendapat mengenai talak yang diucapkan dalam keadaan marah biasa (thalaq al-ghadbaan). Pertama, menurut ulama mazhab Hanafi dan sebagian ulama mazhab Hambali talak seperti itu tak jatuh. Kedua, menurut ulama mazhab Maliki, Hambali, dan Syafi’i, talaknya jatuh. (Hani Abdullah Jubair, Thalaq al-Mukrah wa al-Ghadbaan, hal. 19; Ibnul Qayyim, Ighatsatul Lahfan fi Hukm Thalaq al-Ghadban, hal. 61).

Pendapat pertama antara lain berdalil dengan hadits ‘A`isyah RA bahwa Nabi SAW bersabda,”Tak ada talak dan pembebasan budak dalam keadaan marah (laa thalaqa wa laa ‘ataqa fi ighlaq).” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah). (Musthofa Al-‘Adawi, Ahkam Al-Thalaq fi al-Syari’ah al-Islamiyah, hal. 61).

Pendapat kedua antara lain berdalil dengan riwayat Mujahid, bahwa Ibnu Abbas RA didatangi seorang lelaki yang berkata,”Saya telah menjatuhkan talak tiga kali pada isteriku dalam keadaan marah.” Ibnu Abbas menjawab,”Aku tak bisa menghalalkan untukmu apa yang diharamkan Allah. Kamu telah mendurhakai Allah dan isterimu telah haram bagimu.” (HR Daruquthni, 4/34). (Hani Abdullah Jubair, Thalaq al-Mukrah wa al-Ghadbaan, hal. 24).

Menurut kami, yang rajih (kuat) adalah pendapat kedua, yakni talak oleh suami dalam keadaan marah tetap jatuh talaknya. Alasannya, hadits ‘A`isyah RA meski menyebut talak orang yang marah tak jatuh, tapi yang dimaksud sebenarnya bukan sekedar marah (marah biasa), melainkan marah yang sangat. Imam Syaukani menukilkan perkataan Ibnu Sayyid, bahwa kalau marah dalam hadits itu diartikan marah biasa, tentu tidak tepat. Sebab mana ada suami yang menjatuhkan talak tanpa marah. (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1335).

Kesimpulannya, suami yang menjatuhkan talak dalam keadaan marah dianggap tetap jatuh talaknya. Sebab kondisi marah tidak mempengaruhi keabsahan tasharruf (tindakan hukum) yang dilakukannya, termasuk mengucapkan talak. Kecuali jika kemarahannya mencapai derajat marah yang sangat, maka talaknya tidak jatuh. Wallahu a’lam.

 

sumber: http://konsultasi.wordpress.com/2010/11/13/hukum-menjatuhkan-talak-dalam-keadaan-marah/





Jatuhkah Talak Saat Suami Berucap,”Pulang Saja Kamu ke Rumah Orang Tuamu”?

19 08 2013

Tanya :

Ustadz, apakah sudah jatuh talak, ketika suami berkata kepada istrinya,”Pulang saja kamu ke rumah orang tuamu” ? (Yeye, Bantul)

Jawab :

Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam kitabnya Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu menjelaskan bahwa ucapan (lkafazh) yang digunakan untuk menjatuhkan talak ada dua macam, yaitu ucapan yang sharih (jelas) dan ucapan yang kinayah (sindiran). Ucapan itu bisa jadi berupa ucapan berbahasa Arab ataupun selain bahasa Arab yang menurut bahasa (lughah) dan kebiasaan (‘urf) digunakan untuk menjatuhkan talak, baik itu diucapkan langsung (bil lafzhi), atau dengan tulisan (bil kitabah), atau dengan isyarat (bil isyarah). (Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/356; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 29/17).

Dua macam ucapan (lafazh) talak tersebut adalah; Pertama, ucapan talak yang sharih (jelas), yaitu ucapan yang jelas maksudnya dan menurut kebiasaan digunakan untuk menjatuhkan talak, seperti kata “thalaaq” (bahasa Arab), “talak” atau “cerai” (bahasa Indonesia), atau “pegat” (bahasa Jawa), dan sebagainya. Misalnya suami mengucapkan kepada istrinya dalam bahasa Arab, “Thallaqtuki” (kamu saya talak), atau dalam bahwa Indonesia,”Kamu saya talak.” Atau dalam bahasa Jawa, ”Kowe tak pegat.” (Kamu saya ceraikan). Hukum ucapan talak yang sharih seperti ini adalah bahwa talak dihukumi telah jatuh menurut kesepakatan seluruh fuqoha, tanpa melihat lagi niat dari suami ketika mengucapkannya. Artinya, baik suami berniat menceraikan atau tidak, talak tetap jatuh. Maka pada saat suami mengatakan kepada istrinya,”Kamu saya talak,” talak dihukumi telah jatuh walaupun suami mengklaim bahwa dia sebenarnya tidak berniat menjatuhkan talak. (Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/358; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 29/18, Musthofa bin Al ‘Adawi,Ahkam Al Thalaq fi Al Syari’ah Al Islamiyyah, hlm. 34).

Kedua, ucapan talak kinayah (sindiran), yaitu ucapan yang bisa berarti talak namun juga bisa berarti bukan talak dan masyarakat tidak biasa menggunakan ucapan itu untuk menjatuhkan talak. Misalkan ucapan suami kepada istrinya,”Pulanglah kamu ke keluargamu,” (Arab : ilhaqiy bi-ahliki), atau ucapan suami kepada istrinya,”Keluar kamu dari rumah ini,” atau,”Pergi kamu,” dan sebagainya. (Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/358; Musthofa bin Al ‘Adawi, Ahkam Al Thalaq fi Al Syari’ah Al Islamiyyah, hlm. 35). Hukum ucapan talak kinayah ini adalah bahwa talak tidak jatuh, kecuali jika disertai niat untuk menceraikan. Alasannya, karena ucapan talak secara kinayah ini memang mengandung dua kemungkinan makna, yaitu bisa berarti menjatuhkan talak atau bisa juga tidak menjatuhkan talak. Misalnya ucapan suami kepada istrinya,”Pulanglah kamu ke rumah orang tuamu,” bisa jadi suami bermaksud menceraikan namun bisa jadi suami tak bermaksud menceraikan namun hanya menyuruh istrinya pulang ke rumah orang tuanya karena kesal. Maka dari itu, ucapan talak kinayah ini tidak berarti menjatuhkan talak, kecuali disertai niat dari suami untuk menceraikan. Ini juga disepakati seluruh fuqaha. (Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/359; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 29/18).

Jika seorang suami mengklaim di hadapan hakim (qadhi), bahwa dia sebenarnya tidak meniatkan cerai ketika mengucapkan talak secara kinayah, klaimnya diterima, yakni hakim memutuskan tidak jatuh talak, asalkan suami mengucapkan sumpah di hadapan hakim. Jika suami mengklaim tak berniat menceraikan tapi tak berani bersumpah, maka klaimnya tak diterima dan hakim memutuskan bahwa talaknya telah jatuh. (Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/359). Kesimpulannya, ucapan suami kepada istrinya,”Pulang saja kamu ke rumah orang tuamu,” termasuk ucapan talak secarakinayah (sindiran) dan talaknya dihukumi jatuh jika suami memang berniat menceraikan. Jika tak berniat menceraikan, talaknya tidak jatuh. Wallahu a’lam.

Sumber: http://syariahpublications.com/2013/05/17/jatuhkah-talak-saat-suami-berucappulang-saja-kamu-ke-rumah-orang-tuamu/





Keutamaan Membaca Al-Qur’an

25 05 2011

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Apakah salah seorang dari kalian suka jika ketika dia kembali kepada isterinya, di rumahnya dia mendapati tiga ekor unta yang sedang bunting lagi gemuk-gemuk?” Kami menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Tiga ayat yang dibaca oleh salah seorang dari kalian di dalam shalatnya adalah lebih baik daripada ketiga ekor unta yang bunting dan gemuk itu.” (HR. Muslim no. 802)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu senilai dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf, dan MIIM satu huruf.” (HR. At-Tirmizi no. 2910 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Takhrij Ath-Thahawiah no. 158) Read the rest of this entry »





APAKAH KEBIJAKAN BISA MELANGGAR HUKUM?

19 03 2011

Mungkin semua orang laki-laki yang sudah menikah pernah membaca atau minimal mengetahui apa itu Shighat Ta’liq Talaq. Yang menurut penulis, itu adalah janji seorang suami kepada istrinya yang bisa dirangkum menjadi 2 (dua) point. Pertama, suami berjanji akan mempergauli istrinya dengan baik (mu’asyaroh bil ma’ruf) sesuai dengan syari’at islam. Kedua, suami berjanji tidak akan melakukan 4 (empat) hal: (1) Meninggalkan istri dua tahun berturut-turut, (2) tidak memberi nafkah wajib kepada istri tiga bulan lamanya, (3) menyakiti badan/jasmani istri, (4) membiarkan (tidak mempedulikan) istri selama enam bulan lamanya. Jika suami melakukan satu hal saja dari empat hal diatas, kemudian istri tidak ridha dan mengadukan halnya kepada Pengadilan Agama dan pengaduannya dibenarkan dan diterima oleh Pengadilan tersebut, dan sang istri membayar uang sebesar Rp. 10.000,- sebagai Iwadh (pengganti) kepada suami, maka jatuhlah talaq suami satu kepada istrinya. Read the rest of this entry »








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.